Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum
A.kajian teori
a.Pengertian Filsafat
Istilah
Filsafat adalah terjemahan dari bahasa inggris “phylosophy” yang
berasal dari perpaduan dua kata yunani purba “philien” yang berarti cinta
(love), dan “ sophia” (wisdom) yang berarti kebijaksanaan atau love of
wisdom (redja mudyahardjo, 2001:83). Secara operasional filsafat
mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses (berfilsafat) dan
sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). Dua dari lima
filsafat yang di kemukakan titus menunjukkan pengertian di atas : “physhophy is a method of reflective
thinking and reasoned inquiry;....phylosophy is a group of theories or
system of thought” (kurniasih dan tatang syaripudin, 2007:73). Dengan
kaitannya dengan definisi filsafat sebagai proses, socrates (dalam
syaripudin 2007) mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berpikir yang
mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
b.manfaat filsafat pendidikan
filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahan pendidikan. Dengan demikian, filsafat manfaat
dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian
sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. Nasution (1982)
mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan yaitu
1. Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa
ke mana anak-anak melalui pendidikan dinsekolah? Sekolah ialah suatu
lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang
dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara.
2. Dengan
adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut kita
mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Manusia
yang bagaimanakah yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan
itu?
3. Filsafat dan tujuan pendidikan memeberikan kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan
4. Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai.
5. Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.
c.Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Pandangan-pandangan
Filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan, terutama dalam menentukan
arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan arah kemana peserta
didik akan dibawa. Untuk itu harus ada kejelasan tentang pandangan
hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat
atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok
masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat
memengaruhi tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Sedangkan tujuan pendidikan sendiri pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensip mengenai apa yang seharusnya dicapai.
Tujuan pendidikan memuat pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik selaras dengan sistem
nilai dan falsafah yang dianutnya. Dengan demikian, sistem nialai atau
filsafah yang dianut oleh suatu komunitas akan memiliki keterkaitan yang
sangat erat dengan rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkannya. Dengan
kata lain, filsafah suatu negara tidak bisa dipungkiri akan memengaruhi
tujuan pendidikan di negara tersebut. Olah karena itu, tujuan
pendidikan disuatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di
negara lainnya, sebagai implikasi dari adanya perbedaan filsafah yang dianutnya.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan, terdapat beberapa pendapat yang dijadiakan kaji banding sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan. Herbert Spencer (nasution, 1982) mengungkapkan lima kajian sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan, yaitu;
1. Self
–preservation , yaitu individu harus dapat menjaga kelangsungan
hidupnya dengan sehat, mencegah penyakit, dan hidup secara teratur.
2. Securing
the necessities of life, yaitu individu harus sanggup mencari nafkah
dan memenuhi kebutuhan hidup dengan melakukan suatu pekerjaan.
3. Rearing
of family, yaitu individu harus mampu menjadi ibu atau bapak yang
sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan
keluarganya.
4. Maintaining
proper social and political relationship, artinya setiap individu
adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat negara.
5. Enjoying
leisure time, yaitu individu harus sanggup memanfaatkan waktu
senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menambah kenikmatan dan kegairahan hidup.
The united states office of education (1918) telah mencanangkan tujuan pendidikan melalui “seven cardinal principles”, yaitu:
1. Healt, yaitu diwajibkan mempertinggi taraf kesehatan murid-murid.
2. Command
of fundamental processes, yaitu penguasaan kecakapan pokok-pokok yang
fundamental seperti; menulis, membaca, dan berhitung.
3. Worty home membership, yaitu mendidik anak-anak menjadi anggota keluarga yang berharga, sehingga berguna bagi masyarakat.
4. Vocation
efficiency, yaitu efisiensi dalam pekerjaan sehingga dalam waktu yang
singkat dapat mencapai hasil yang banyak dan memuaskan.
5. Citizenchip, yaitu usaha mengembangkan bangsa menjadi warga yang baik.
6. Worty use of leisure, yaitu memanfaatkan waktu senggang dengan baik yang senantiasa bertambah panjang berhubung dengan dengan industrialisasi yang lebih sempurna.
7. Satisfaction of religious needs, yaitu pemusan kehidupan keagamaan
Tujuan
pendidikan nasional indonesia bersumber pada pandangan hidup
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yaitu pancasila. Nilai-nilai
filsafat pancasila yang dianut bangsa indonesia dicerminkan dalam rumus tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU No. 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu pendidikan nasional
berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar negara republik indonesia
tahun 1945.
d.kurikulum dan filsafat pendidikan
kurikulum
pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena
tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh
filsafat atau pandangan hidup
suatu bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat
erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara
yang dianutnya.
Pancasila
sebagai dasar dan falsafah hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai
pancasila itu sendiri. Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program
pendidikan pemilihan dan penggunaan dan pendekatan atau strategi
pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik / peserta didik
senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa indonesia, yaitu
pancasila.
Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya dalam
pengembangan kurikulum di indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan
tetapi hendaknya dipertimbangkan dan dakaji kesesuaiannya dengan
nilai-nilai falsafah hidup bangsa indonesia, karena tidak sesuai konsep
aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan
kita.
e.aliran-aliran filsafat pendidikan
pengembangan
kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir.
Kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya menjawab
permasalahan-permasalahan sekitar;
1. Bagaimana seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan
2. Isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang seharusnya disajikan kepada siswa.
3. Metode pendidikan apa yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan,
4. Bagaimana peranan yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik
Menurut
Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang
sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya, dan
pendidikan di indonesia pada khususnya, yaitu:
1-dealisme
a.Konsep-Konsep Filsafat
v Metafisika (hakekat realitas) yang bersifat rohani atau spiritual
v Humanologi (hakikat manusia) jiwa yang dikaruniai kemampuan berpikir dan rasional
v Epistermologi
(hakikat pengetahuan) orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang,
sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat.
v Aksiologi (hakikat nilai) hakikat ini bersifat absolut/mutlak
b.Konsep-Konsep Pendidikan
v Tujuan Pendidikan : formal, informal
v Isi pendidikan: pengembangan kemampuan berpikir melelui pendidikan liberal atau pendidikan umum.
v Metode pendidikan:disusun oleh metode dialektik/diologik
v Peranan peserta didik dan pendidik: peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya
2. Realisme
a.Konsep-Konsep Filsafat
v Metafisika (hakikat realitas): realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat fisik atau materi.
v Humanologi (hakikat manusia): hakikat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan
v Epistemologi (hakikat pengetahuan): pengetahuan diperoleh melalui pengindraan dengan menggunakan pikiran
v Aksiologi (hakikat nilai): tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam yang diperoleh melalui ilmu.
b.konsep-konsep pendidikan
v Tujuan pendidikan: dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial.
v Isi
pendidikan:isi pendidikan adalah kurikulum komprehensif yang berisi
semua pengetahuan berguna baagi pebyesuaian diri dalam hidup dan
tanggung jawab sosial.
v Metode pendidikan didasarkan pada pengalaman langsung maupun tidak langsung.
v Peranan
peserta didik dan pendidik:dalam hubungannya dalam pembelajaran.
Peranan pesserta didik adalah menguasai pengetahuan yang dapat
berubah-ubah.
a.Konsep-Konsep Filsafat
v Metafisika (hakikat realitas): suatu teori umum tentang kenyataan tidak mungkin dan tidak perlu.
v Humanologi (hakikat manusia): manusia adalah hasil evolusi bilologis, psikologis dan sosial.
v Epistemologi (hakikat pengetahuan): pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang.
v Aksiologi(hakikat
nilai): ukuran tingkah laku perorangan dan sosial ditentukan secara
eksperimental dalam pengalaman-pengalaman hidup.
b.konsep-konsep pendidikan
v Tujuaan
pendidikan:tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman untuk
memeahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan
masyarakat.
v Isi
pendidikan :kurikulum dan pengalaman yang telah teruji serta
minat-minat dan kebutuhan-kebuutuhan anak dan pnendidikan liberal
menghlangkan pemisahan antara pendidikan umum dengan pendidikan
praktis/vokassional.
v Metode pendidikan: berfikir reflektif atau metode pemecahan masalah merupakan metode utamanya.
v Peranan peserta didik dan pendidik peserta didik adalah sebuah organisme yang rumit yang mampu tumbuh.peranan
pendidik adalah mengawasi dan membimbing pengalaman blajar tampa
terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta didik.
B.pembahasan
Dalam hal ini ada 4 landasan pokok dalam pengembangan kurikulum yaitu:
v landasan filosofis
v landasan psikologi
v landasan sosiologis
v dan landasan pengetahuan dan teknologi
Disini kami membahas tentang landasan filosofi dan kurikulum pendidikan.
Menurut
saya kurikulum adalah pedoman, petunjuk, atau kompas arah bagi pendidik
dan yang dididik untuk mengetahui sampai mana kemampuan mereka.
Kurikulum sangat berguna bagi dunia pendidikan sedangakan kalau di dunia
lainnya kurikulum itu sama dengan targetan perharinya.
Landasan
merupakan dasar atau pedoman. filosofi / filsafat merupakan cinta
kebijakan, bisa dikatakan orang yang menghargai pendapat orang lain.
filsafat merupakan teori-teori yang pertama kali ditemukan yang
dipercaya dan masih digunakan sampai sekarang, kebanyakan teori tersebut
sudah teruji dan terbukti kebenarannya. Tapi, banyak juga teori yang
tidak dipercaya lagi bahkan banyak pro dan kontra dengan adanya
teori-teori baru yang muncul begitu cepatnya.
Dengan
berkembangnya zaman maka semakin berkembang juga pemikiran-pemikiran
yang lebih luar biasanya lagi. Akan tetapi zaman sekaraang kebanyakan
hanya bisa berpendapat dan tidak bisa membuktikannya. Makanya teori yang
lama masih tetap dipercaya sampai sekarang.
Idealisme
berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato),
jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan
merendahkan hal-hal yang materi dan fisik, dengan kalimat lain idealisme lebih bersifat pemikiran-pemikiran, yang bisa berupa imajinasi.
Realisme
berasal dari kata real yang artinya nyata, idelisme dan realisme saling
berkaitan, dimana setelah pemikiran itu muncul barulah kita bisa
mengaplikasikannya ke lapangan ke dunia nyata yang sebenarnya.
Pragmatisme
berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan,
perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang
benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan
akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. setelah relisme maka
kita harus pragmatisme, bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan
dalam realisme, serta mempunyai bukti kebenarannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dari
ketiga pemikiran filsafat tersebut sangat berkaitan, dapat dikatakna
filsafat itu tanpa salah satu dari tiga tersebut belum bisa dikatakan
filsafat yang teruji, terbukti dan terpercaya.
Daftar pustaka
Kurikulum dan pembelajaran / tim pengembang MKDP kurikulum pembelajaran-Ed.3-2.-jakarta: Rajawalipers,2012.

0 komentar:
Posting Komentar